Hari demi hari, dilewatinya dengan senyum tergores lebar diwajahnya.
Setiap yang melihat, pasti berfikir bahwa dia memiliki hari yang indah.
Tapi siapa tahu, kalau dalam hatinya dia menjerit
dalam hatinya dia menangis
bukan karena tersakiti, atau terainaya.
Batinnya luka, oleh ulahnya sendiri.
Hatinya menjerit, menangis, oleh sesalnya.
Tiap detik dalam hidupnya dilalui dengan penuh kepura-puraan
tiap menit dalam benaknya hanya terlintas kalimat-kalimat yang dia sendiri tidak tahu apa artinya.
Dosa dalam benaknya, tangannya, kakinya, bahkan sekujur tubuhnya terasa pekat.
Untuk mengambil setetes air wudlu terasa berat baginya.
Tapi dalam hati kecilnya, ia tahu itu salah.
Ia tahu ia berdosa.
Telah banyak mengumbar janji yang tak pasti, sumpah yang baginya bak mengucap kata tak bermakna.
Air mata darah sekalipun tak dapat menghapus rasa bersalahnya.
Namun rasa malunya terlalu besar.
Untuk terlihat oleh orang lain pun dia enggan.
Kepalanya terasa berat ketika melangkah keluar tempatnya bersemayam, merunduk, bak kura-kura yang berjalan dengan kepala dalam cangkangnya.
Ditiap langkahnya terucap kalimat istighfar, tapi apa itu cukup?
Dalam benaknya mengalir air mata penyesalan, apa itu juga cukup?
Bimbingan ya Allah, itulah yang dibutuhkannya, motivasi, itulah yang diperlukannya.
Fitrah, itulah yang didambanya.
Bunuhlah sebagian rasa malu darinya, yang menghalaunya dalam memasuki rumah-Mu
siramilah tubuhnya, agar dosa-dosanya mengalir seiring air yang Engkau siram padanya
bimbinglah dia, pada jalan-Mu yang lurus
jalan menuju surga-Mu.